Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Kamis, 09 Februari 2012

Sinopsis Novel Azab dan Sengsara

1. Judul : Azab dan Sengsara
2. Pengarang : Merari Siregar
3. Penerbit : Balai Pustaka
4. Tahun : 2000
5. Angkatan : 20-an
6. Jumlah Halaman : 163 halaman

Azab dan Sengsara


Di sebuah kota kecil di Sipirok, Medan, hiduplah dua pasang remaja yaitu Mariamin dan Aminuddin. Sejak dari kecil mereka berdua sudah bersahabat karib. Mariamin adalah seorang anak gadis yang cantik, baik hati dan juga penyabar. Ia merupakan anak dari pasangan suami istri yang kaya raya di Sipirok itu, yakni Sutan Baringin dan istrinya Nuria.
Sedangkan Aminuddin adalah seorang anak dari keluarga yang juga berkecukupan di sebuah kampung. Ayahnya adalah seorang yang sangat dihormati di kampong tersebut, karena Ayahnya adalah seorang kepala desa yang mempunyai sawah yang lebar dan memiliki banyak hewan ternak. Serta karena ayahnya adalah seorang sosok orang yang dermawan.
Aminuddin dan Mariamin setiap pulang dari sekolah selalu bersama-sama dan begitu pula perginya. Mereka sering membantu orang tua mereka di sawah, dan tak jarang pula Aminuddin membantu Mariamin ini mencabuti rumput di sawahnya.
Pada suatu hari, Aminuddin dan Mariamin pulang dari sawah pada waktu hari sudah senja dan cuaca sedang buruk, hujanpun turun dengan lebatnya membasahi mereka. Ketika mereka akan menyeberangi jembatan di atas sebuah sungai, tiba-tiba Mariamin terjatuh dan terseret oleh arus sungai yang deras karena banjir. Melihat temannya terjatuh, Aminuddin tanpa pikir panjang langsung terjun ke sungai untuk menyelamatkan Mariamin. Setelah lama mencari, barulah dia melihat tubuh Mariamin yang disinari oleh kilat. Ia pun langsung berenang ke sana dan menyelamatkan Mariamin lalu membawanya ke sebuah pondok. Sementara ia mencari bantuan ke kampungnya yang tidak jauh dari tempat itu. Semenjak itulah hubungan kedua sahabat baik ini menjadi semakin dekat dan tanpa disadari munculah benih-benih cinta di antara mereka.
Sutan Baringin adalah seorang yang tamak dan rakus akan harta benda. Suatu saat ia mendapat kabar, bahwa saudara jauhnya (satu datuk lain nenek) yaitu Baginda Mulia akan kembali dari perantauannya (Deli). Dalam pikirnya, saudaranya ini pulang untuk mengambil bagian harta warisan miliknya. Karena sifatnya yang rakus dan tamak itu, ia pun mencari akal agar Baginda Mulia tidak mendapatkan bagian warisan tersebut. Bahkan ia sampai membawa perkara tersebut sampai ke pengadilan. Hal itu dikarenakan ia telah termakan hasutan dan bujuk rayu temannya sendiri M. Sait yang hanya ingin memanfaatkannya saja.
Setelah perkara tersebut dibawa ke pengadilan, dari pengadilan satu ke pengadilan yang lain, ternyata Sutan Baringinpun kalah. Dan Baginda Mulialah yang berhak atas warisan tersebut. Setelah kejadian itu, Sutan Baringinpun jatuh sakit. Kehidupan keluarga mereka berubah drastis. Mereka yang dahulunya kaya sekarang menjadi orang yang melarat dan tak punya apa-apa. Mereka sekarang harus menempati rumah yang sangat sederhana di pinggiran sungai. Tidak lama kemudian Sutan Baringinpun pergi untuk selama-lamanya. Ia meninggal dunia dengan meninggalkan duka dan penyesalan bagi keluarganya. Kemeralatan merekapun semakin bertambah. Ibunya, Nuria sering sakit-sakitan. Dan Mariamin pun semakin hari semakin menjadi dewasa, begitu pula dengan sahabatnya, Aminuddin. Mereka berdua mebantu satu sama lain.
Dan sekarang, Aminuddin harus meninggalkan Mariamin untuk pergi merantau. Ia berjanji kepada Mariamin bahwa ia suatu saat akan pulang kembali kepada kekasihnya ini. Selama di perantauan mereka sering berkirim surat. Dan suatu saat, Aminuddin menuliskan surat kepada Mariamin, bahwa ia akan meminta ayahnya untuk melamar Mariamin. Mariamin sangat senang dengan kedatangan surat dari kekasihnya ini. Iapun mempersiapkan segala sesuatu keperluan untuk menerima tamu/kedatangan ayah Aminuddin di rumahnya nanti.
Tapi ayah Aminuddin berkehendak lain, ia menginginkan jodoh untuk anaknya haruslah dari orang yang berada pula dan sederajat dengan mereka. Oleh karena itu ia berusaha mencari gadis lain untuk anaknya. Tapi istrinya mendesak agar suaminya mau memenuhi permintaan anaknya. Untuk mencapai kesepakatan, maka ayah Aminuddin pergi ke Datu Naserdung untuk melihat baik buruknya apabila Aminuddin dan Mariamin menikah nanti. Ternyata Datu Naserdung mengatakan bahwa apabila mereka menikah nanti, tahun-tahun pertama mereka akan bahagia dan dikaruniai putra. Tapi nanti setelah tujuh atahun Aminuddin akan meninggal/celaka.
Mendengar hal itu, ayah Aminuddin tidak ingin anaknya menikah dengan Mariamin. Maka iapun mencari gadis lain. Dan ia menemukan seorang gadis yang sepadan dengan anaknya dan ia juga merupakan anak kepala kampung, gadis itu bernama Siregar.
Ayah Aminuddin pun memberi kabar kepada Aminuddin bahwa ia akan membawa calon istri Aminuddin ke tempat perantauan Aminuddin. Betapa gembiranya Aminuddin mendengan kabar tersebut. Ia menyangka bahwa Mariaminlah yang yang dibawa oleh ayahnya tersebut. Betapa hancur dan kecewanya Aminuddin setelah melihat bahwa gadis itu bukanlah kekasihnya, Mariamin. Tapi ia tidak mampu menolak permintaan ayah dan kerabatnya tersebut. Dan iapun menikah dengan gadis itu tanpa sepengetahuan Mariamin.
Mariamin tidak mengetahui bahwa Aminuddin telah menikah, iapun selalu menanti kedatangan ayah Aminuddin untuk melamarnya. Dan suatu ketika datanglah surat dari Aminuddin. Ia sangat mengenal tulisan itu, itu adalah tulisan kekasihnya, Aminuddin. Betapa hancur dan pedihnya perasaan Mariamin ketika membaca surat itu, yang memberitahukan bahwa Aminuddin telah menikah. Wajah Mariamin tiba-tiba pucat, keringat bercucuran, dan akhirnya ia jatuh tidak sadarkan diri. Mariamin pingsan.
Setelah kejadian itu Mariamin semakin hari semakin kurus. Ia sering sakit-sakitan, badannya tidak lagi terurus, wajahnya yang dahulu berseri-seri kini telah hilang sinarnya. Dan tak lama kemudian karena desakan dari ibunya, Mariaminpun menikah dengan orang yang bernama Kasibun. Setelah menikah iapun mengikuti suaminya. Perkawinan mereka tidaklah bahagia karena Kasibun telah mempunyai banyak istri, ia kasar dan ternyata memiliki penyakit kelamin. Karena tidak tahan akan perbuatan suaminya yang kasar itu, Mariamin melarikan diri dari rumah dan menuju kantor polisi untuk mendapatkan perlindungan. Harapan Mariamin untuk memenjarakan Kasibun gagal. Kasibun hanya didenda uang Rp 25,-
Setelah itu ia kembali ke kampung halamannya. Namun sayang, ibu dan adiknya tidak ia temukan di sana. Entah ke mana perginya mereka. Akhirnya Mariaminpun meninggal dunia, dengan demikian berhentilah kesengsaraan Mariamin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

 

Blogger news

Blogroll

About